Rupiah masih Melemah di Sekitar 16.900, DXY Tahan Momentum saat Pasar Menakar Risiko Global

  • USD/IDR naik ke sekitar 16.919, masih bergerak dekat area psikologis 17.000.
  • BI tetap intervensi offshore di tengah libur Lebaran.
  • Dolar AS stabil, didorong data ekonomi yang masih kuat.

Rupiah di pasar offshore dibuka lebih stabil di kisaran 16.815 pada awal perdagangan Jumat, mencerminkan dampak intervensi Bank Indonesia setelah penutupan sebelumnya di 16.980. Namun, tekanan eksternal kembali mengambil alih, dengan USD/IDR bergerak naik ke sekitar 16.919 pada awal sesi Eropa, menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah likuiditas yang menipis selama libur panjang.

Pergerakan ini sekaligus mempertegas pelemahan lanjutan rupiah, dengan USD/IDR naik sekitar 0,62% dibandingkan sesi sebelumnya. Sepanjang sesi Asia hingga awal perdagangan Eropa, pasangan ini bergerak dalam rentang 16.879-16.946, sementara kisaran mingguan berada di 16.085-16.998. Kedekatan harga dengan batas atas rentang tersebut mengindikasikan tekanan belum sepenuhnya mereda, dengan level 17.000 kembali menjadi titik uji psikologis yang diperhitungkan pelaku pasar.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia tetap melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar offshore. Mengacu pada laporan Bisnis.com, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa pergerakan rupiah tetap berlangsung di pasar global meskipun aktivitas domestik berhenti, sehingga kehadiran bank sentral diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Ia juga menyoroti bahwa minimnya transaksi di pasar dalam negeri membuat pembentukan harga lebih banyak ditentukan oleh pasar NDF offshore, sehingga BI melalui kantor perwakilannya di New York terus memantau dan siap masuk pasar jika tekanan meningkat.

Dari sisi eksternal, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang beragam. Klaim Tunjangan Pengangguran awal tercatat 205 ribu, lebih rendah dari ekspektasi, sementara indeks manufaktur The Fed Philadelphia melonjak ke 18,1, menandakan aktivitas industri yang menguat. Namun, penjualan rumah baru justru terkontraksi tajam -17,6%, memperlihatkan tekanan yang masih membayangi sektor perumahan.

Sejalan dengan itu, Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar 99,35 setelah mencoba menguji area 99,50, menandakan dolar masih menjaga momentum kenaikan. Kombinasi data ekonomi yang cukup kuat serta bias kebijakan The Fed yang tetap ketat membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Fokus pasar kini tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, yang terus membentuk persepsi risiko global. Selama ketidakpastian ini bertahan, pelaku pasar cenderung menahan langkah sambil mengevaluasi ulang eksposur, dengan pergerakan rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan menjelang terbentuknya arah yang lebih jelas.

Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS

Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.

Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.

Bagikan: Pasokan berita