Emas Anjlok seiring Melonjaknya Dolar AS Bersamaan dengan Harga Minyak

  • Emas jatuh di bawah $4.400 saat Minyak naik dan kekhawatiran inflasi mendorong Dolar AS.
  • Pasar kini memprkirakan pengetatan The Fed, dengan imbal hasil AS bertenor 10 tahun naik ke 4,41%.
  • Ketidakpastian atas perundingan AS-Iran dan risiko perang menekan harga bullion.

Harga Emas (XAU/USD) anjlok hampir 2,50% pada hari Kamis saat harga Minyak naik di tengah ketidakpastian atas kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran, menambah tekanan ke atas pada inflasi dan mendorong Greenback untuk menguat. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di $4.394 setelah mencapai tertinggi harian $4.544.

Bullion Turun seiring Kenaikan Harga Energi dan Penilaian Ulang The Fed Hawkish Membebani Permintaan

Sentimen pasar keuangan tetap suram. Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan Iran untuk serius dalam menyetujui kesepakatan. Ia mengatakan bahwa negosiator-negosiator Iran "sangat berbeda" dan "aneh," menambahkan bahwa secara pribadi mereka memohon untuk membuat kesepakatan, sementara secara publik mereka mengatakan sedang mempertimbangkan proposal.

Iran sedang meninjau proposal 15 poin AS yang bertujuan mengakhiri permusuhan, meskipun memberi isyarat bahwa mereka tidak terbuka untuk melakukan perundingan.

Beberapa tuntutan Washington termasuk penghapusan stok uranium yang sangat diperkaya milik Iran, pembatasan program misil balistiknya, dan pemotongan pendanaan untuk sekutu regional.

Sementara itu, Pentagon bersiap untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran, memberikan opsi tambahan kepada Presiden Trump. Menurut Axios, Pentagon AS sedang mempersiapkan "pukulan terakhir" terhadap Iran, yang akan mencakup penggunaan pasukan darat.

Alasan lain penurunan harga Emas adalah laporan Bloomberg bahwa bank sentral Türkiye menjual dan menukar sekitar 60 ton Emas, "senilai lebih dari $8 miliar, dalam dua minggu setelah dimulainya perang di Iran, menambah tekanan ke bawah pada harga bullion."

Pasar Memparkirakan The Fed Hawkish

Selain itu, pasar uang memparkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, para pedagang memprakirakan setidaknya dua pemangkasan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). Namun, sejak konflik dimulai dan setelah keputusan kebijakan The Fed pada 18 Maret, mereka mengurangi taruhan dovish mereka. Sebaliknya, mereka memprakirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal.

Probabilitas suku bunga The Fed — Sumber: Prime Market Terminal

Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, membuat status Emas sebagai safe haven menjadi kurang menarik. Surat utang obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun naik delapan basis poin menjadi 4,412%.

Agenda ekonomi AS menunjukkan data lapangan pekerjaan yang solid dari Departemen Tenaga Kerja AS. Klaim Tunjangan Pengangguran Awal untuk pekan yang berakhir 21 Maret mencapai 210 ribu, sesuai dengan prakiraan analis, naik dari sebelumnya 205 ribu.

Ke depan, perhatian tertuju pada pernyataan beberapa pejabat Federal Reserve, dipimpin oleh Gubernur Lisa Cook, Stephen Miran, Philip Jefferson, dan Michael Barr. Bersama mereka, Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, juga akan berbicara.

Prospek Teknis XAU/USD: Tren Menurun Emas Berlanjut di Bawah $4.400

Harga Emas berbalik arah setelah gagal merebut kembali level $4.550, yang memperparah penurunan yang sedang berlangsung di bawah $4.400. Sehari sebelumnya, XAU/USD bertemu dengan Simple Moving Average (SMA) 100-hari di $4.600, dan kegagalan untuk merebut kembali level tersebut membuka peluang penurunan lebih lanjut.

Relative Strength Index (RSI) bergerak turun, semakin mendekati wilayah jenuh jual, yang mengindikasikan bahwa para penjual semakin menguat.

Jika Emas menutup hari di bawah $4.400, support berikutnya adalah terendah harian Selasa di $4.306, diikuti oleh swing low Senin di $4.098.

Di sisi atas, para pembeli harus menembus terendah harian Rabu di $4.456 untuk merebut kembali level $4.500.

Grafik Harian Emas

Pertanyaan Umum Seputar Emas

Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.

Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.

Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.

Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.

Bagikan: Pasokan berita