Indonesia: Risiko kebijakan inflasi dan energi – DBS

Ekonom DBS Group Research Radhika Rao mencatat inflasi Indonesia pada bulan Maret mereda menjadi 3,5% tahun-ke-tahun karena stimulus pemerintah mengimbangi efek dasar dan tekanan terkait Lebaran. Dia memprakirakan inflasi akan normalisasi mulai kuartal kedua, dengan Bank Indonesia kemungkinan akan menahan suku bunga sambil mengamati stabilitas Rupiah dan risiko bahan bakar bersubsidi. Langkah-langkah konservasi energi baru menawarkan keringanan fiskal sementara tetapi bisa terbukti tidak cukup jika harga Minyak naik lebih lanjut.

Inflasi yang jinak dan pertukaran kebijakan bahan bakar

"Inflasi bulan Maret relatif jinak pada 3,5% YoY dari 4,6% di bulan Februari karena langkah stimulus mengimbangi efek dasar yang memudar."

"Berlalunya efek dasar dari kuartal kedua akan menormalkan inflasi, dengan tidak adanya kenaikan harga pompa eceran dan produk bahan bakar non-subsidi diperkirakan akan membatasi tekanan inflasi."

"Untuk saat ini, otoritas memilih untuk menyerap guncangan awal dari harga energi global guna melindungi daya beli konsumen. Namun, kenaikan harga minyak lebih lanjut dapat meningkatkan kemungkinan sebagian penyesuaian harga bahan bakar domestik, yang berpotensi memicu inflasi dan mendorong pergeseran menuju kebijakan yang lebih ketat."

"Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana konservasi energi pada hari Rabu, yang terdiri dari a) pembatasan bahan bakar – batas bahan bakar bersubsidi sebesar 50 liter per hari; peluncuran 50% B50 mulai Juli; b) pegawai negeri bekerja dari rumah sekali seminggu kecuali di sektor strategis, bersama dengan pengurangan penggunaan kendaraan dan kebutuhan perjalanan, dll; c) tinjauan setelah dua bulan; d) harga bahan bakar non-subsidi tetap tidak berubah setelah ekspektasi awal kenaikan yang akan datang sejak 1 April; e) penyesuaian pada program Makan Gratis (MBG) (potensi penghematan: ~IDR25 Triliun; 0,1% dari PDB)."

"BI diprakirakan akan tetap menahan suku bunga bulan ini, sambil memantau stabilitas pasar keuangan, pergerakan rupiah dan risiko kenaikan harga bahan bakar bersubsidi (serta konsekuensi pelepasan jangkar ekspektasi inflasi)."

(Artikel ini dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan dan ditinjau oleh editor.)

Bagikan: Pasokan berita