Batu Bara ICE Newcastle Ditutup Merah untuk Tiga Hari Perdagangan Berturut-turut
- Batu Bara ICE Newcastle tidak mengekor harga komoditas lainnya yang merayap naik.
- Harga komoditas lainya seperti Minyak naik pasca Presiden Trump mengancam Iran.
- Libur Jumat Agung memberikan pasar jeda setelah asupan informasi yang intens.
Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari Kamis kemarin di 139,30 yang lebih tinggi 0,14% dari penutupan hari sebelumnya. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 140,50 dan sempat mencatatkan tertinggi hari di 141,40. Namun demikian, komoditas ini berbalik arah untuk turun ke terendah hari 139,30 dan bertahan di level tersebut sampai penutupan.
Batu bara ini ditutup di bawah level pembukaannya untuk tiga hari berturut-turut. Namun demikian, komoditas ini tetap mempertahankan tren naik dalam jangka lebih panjang karena tetap teguh di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 52,32 menunjukkan bahwa momentumnya bullish-ke-netral karena indikator ini melayang sedikit di atas level netral 50.
Cuaca di pelabuhan Newcasle Australia di sekitar 24°C hingga 27°C pada saat berita ini ditulis dengan kemungkinan hujan ringan sekitar 40%. Cuaca seperti itu diprakirakan tidak banyak menganggu proses pemuatan batu bara di pelabuhan dan aktivitas tetap berlanjut meskipun hari ini libur Jumat Agung.
Harga batu bara tampak kesulitan mengikuti kenaikan harga komoditas lainnya seperti Minyak West Texas Intermediate (WTI) yang naik lebih dari 10% untuk ditutup di $103,84 kemarin, yang pada satu titik mencapai tertinggi $105,04. Kenaikan tersebut terjadi pasca Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melancarkan ancaman akan menghantam Iran dengan keras dalam pidato kepada bangsa pada hari kemarin.
Yang terbaru, Presiden Trump, melalui media sosialnya menunjukkan video serangan terhadap jembatan di Teheran, Iran serta memperingatkan akan ada serangan lainnya yang menyusul dan mendesaknya untuk membuat kesepakatan sebelum terlambat.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 135.K/MB.01/MEM.B/2026. Sebagian besar menunjukkan kenaikan dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $99,87 turun dari $103,01
- Batubara I (5.300 GAR) $72,28 naik $71,55
- Batubara II (4.100 GAR) $49,99 naik dari $48,32
- Batubara III (3.400 GAR) $35,23 naik dari $34,25
Tidak ada kabar terkait energi yang menonjol dari dalam negeri untuk saat ini mengingat libur Wafat Yesus Kristus hari ini. Sebelumnya minggu ini, Menteri Ketenagakerjaan Repubik Indonesia (RI), Yassierli, menerbitkan Surat Edaran terkait Work From Home (WFH) dan Program Optimalisasi Pemanfaatan Energi di Tempat Kerja. Program ini sebagai salah satu tindakan untuk mengurangi penggunaan energi di tengah krisis energi yang diakibatkan oleh perang di Timur Tengah.
Pemerintah juga menetapkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi tidak berubah meskipun harga minyak dunia bergerak naik. Keputusan tersebut untuk menjaga daya beli masyarakat. Keputusan ini merupakan perpanjangan dari pengumuman sebelumnya bahwa harga BBM non-subsidi tidak dinaikkan sampai Idulfitri.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Minyak WTI
Minyak WTI adalah jenis minyak mentah yang dijual di pasar internasional. WTI adalah singkatan dari West Texas Intermediate, salah satu dari tiga jenis utama termasuk Brent dan Dubai Crude. WTI juga disebut sebagai "ringan" dan "manis" karena gravitasi dan kandungan sulfurnya yang relatif rendah. Minyak ini dianggap sebagai minyak berkualitas tinggi yang mudah dimurnikan. Minyak ini bersumber dari Amerika Serikat dan didistribusikan melalui hub Cushing, yang dianggap sebagai "Persimpangan Pipa Dunia". Minyak ini menjadi patokan untuk pasar minyak dan harga WTI sering dikutip di media.
Seperti semua aset, penawaran dan permintaan merupakan pendorong utama harga minyak WTI. Dengan demikian, pertumbuhan global dapat menjadi pendorong peningkatan permintaan dan sebaliknya untuk pertumbuhan global yang lemah. Ketidakstabilan politik, perang, dan sanksi dapat mengganggu pasokan dan memengaruhi harga. Keputusan OPEC, sekelompok negara penghasil minyak utama, merupakan pendorong utama harga lainnya. Nilai Dolar AS memengaruhi harga minyak mentah WTI, karena minyak sebagian besar diperdagangkan dalam Dolar AS, sehingga Dolar AS yang lebih lemah dapat membuat minyak lebih terjangkau dan sebaliknya.
Laporan inventaris minyak mingguan yang diterbitkan oleh American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Agency (EIA) memengaruhi harga minyak WTI. Perubahan inventaris mencerminkan fluktuasi pasokan dan permintaan. Jika data menunjukkan penurunan inventaris, ini dapat mengindikasikan peningkatan permintaan, yang mendorong harga minyak naik. Inventaris yang lebih tinggi dapat mencerminkan peningkatan pasokan, yang mendorong harga turun. Laporan API diterbitkan setiap hari Selasa dan EIA pada hari berikutnya. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% dari satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah.
OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) adalah kelompok yang terdiri dari 12 negara penghasil minyak yang secara kolektif memutuskan kuota produksi untuk negara-negara anggota pada pertemuan dua kali setahun. Keputusan mereka sering kali memengaruhi harga minyak WTI. Ketika OPEC memutuskan untuk menurunkan kuota, pasokan dapat diperketat, sehingga harga minyak naik. Ketika OPEC meningkatkan produksi, efeknya justru sebaliknya. OPEC+ mengacu pada kelompok yang diperluas yang mencakup sepuluh anggota non-OPEC tambahan, yang paling menonjol adalah Rusia.