Emas Pertahankan Kekuatan tetapi Kehilangan Momentum saat Ketegangan AS-Iran dan Prospek The Fed Membebani

  • Emas pulih dari level terendah dalam perdagangan harian tetapi tetap terbatas karena ketegangan AS-Iran yang meningkat membatasi kenaikan.
  • Perundingan AS-Iran berakhir tanpa kesepakatan, AS memerintahkan blokade yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan Iran.
  • Dari sisi teknis, XAU/USD menunjukkan bias netral dengan sedikit kecenderungan turun di bawah SMA 50 hari.

Emas (XAU/USD) mendapatkan kembali posisi pada hari Senin setelah pembukaan dengan gap bawah, meskipun kenaikan tetap terbatas karena pasar tetap waspada di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di sekitar $4.717, pulih dari terendah dalam perdagangan harian di dekat $4.632

Sentimen risk-off mendominasi sentimen pasar karena optimisme pekan lalu setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu memudar setelah perundingan AS-Iran selama akhir pekan di Islamabad berakhir tanpa terobosan.

Sebagai tanggapan, Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz, memperingatkan bahwa kapal-kapal Iran yang mendekatinya akan "segera dieliminasi." Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS mengatakan blokade akan berlaku untuk semua kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman, dengan operasi dimulai Senin pukul 10:00 ET (14:00 GMT/21:00 WIB).

Sementara itu, Korps Pengawal Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran memperingatkan bahwa kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan dapat menghadapi respons keras.

Pasar tetap waspada terhadap eskalasi lebih lanjut dan gangguan berkepanjangan pada pasokan energi global, dengan harga Minyak Mentah kembali naik setelah koreksi pekan lalu. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar $96, naik sekitar 6,5% pada saat berita ini ditulis

Harga Minyak yang tinggi memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, atau bahkan menaikkannya lebih lanjut jika konflik berlanjut, menjaga Dolar AS (USD) dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS tetap didukung secara luas. Data inflasi AS terbaru untuk Maret mencerminkan kenaikan biaya energi, dengan IHK umum naik 0,9% MoM dari 0,3% di Februari, sementara tingkat tahunan naik menjadi 3,3% YoY dari 2,4%.

Meski dipandang sebagai lindung nilai inflasi dan aset safe-haven, Emas kesulitan menarik minat beli yang signifikan sejak perang dimulai, karena prospek suku bunga lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang logam yang tidak berimbal hasil ini.

Namun, prospek yang lebih luas tetap didukung oleh pembelian bank sentral yang stabil, menurunnya kepercayaan pada mata uang fiat, meningkatnya tingkat utang negara di negara-negara besar, dan permintaan investasi yang tangguh.

Ke depan, kalender ekonomi AS relatif ringan, dengan fokus utama pada Indeks Harga Produsen (IHP) untuk bulan Maret yang akan dirilis pada hari Selasa. Selain itu, beberapa pejabat The Fed dijadwalkan berbicara sepanjang minggu, yang dapat memberikan panduan lebih lanjut tentang prospek suku bunga.

Analisis Teknis: XAU/USD Berkonsolidasi di Antara SMA Utama

Dari sudut pandang teknis, grafik harian menunjukkan XAU/USD bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di $4.687,17 dan jauh di atas SMA 200 hari di sekitar $4.185,69, sementara tetap terbatas di bawah SMA 50 hari di $4.899,38. Hal ini menjaga bias yang lebih luas tetap netral dengan sedikit kecenderungan turun saat harga berkonsolidasi di antara level-level utama ini.

Indikator-indikator momentum menunjukkan kurangnya arah yang kuat, dengan Relative Strength Index (14) di sekitar 47 yang mengindikasikan para pembeli kurang yakin, sementara Average Directional Index di sekitar 27 mencerminkan kekuatan tren yang hanya moderat.

Di sisi atas, pergerakan berkelanjutan di atas SMA 50 hari akan menandakan perbaikan momentum bullish, dengan zona $5.000-$5.200 muncul sebagai area resistance berikutnya.

Di sisi bawah, kegagalan bertahan di atas SMA 100 hari dapat mengekspos zona support $4.600–$4.500, diikuti oleh SMA 200 hari.

Pertanyaan Umum Seputar Emas

Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.

Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.

Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.

Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.

Bagikan: Pasokan berita