Indonesia: Prospek inflasi stabil dengan risiko minyak – UOB

Enrico Tanuwidjaja dan Vincentius Ming Shen dari UOB mencatat inflasi Indonesia pada bulan April melambat menjadi 2,42% tahun-ke-tahun, di bawah ekspektasi namun masih dalam target Bank Indonesia (BI). Mereka menyoroti normalisasi pasca-liburan, inflasi energi yang terkendali berkat bahan bakar bersubsidi, dan inflasi inti yang stabil. Mereka melihat risiko kenaikan dari harga minyak global yang lebih tinggi namun memprakirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga kebijakan pada 4,75% sambil berkoordinasi dengan pemerintah mengenai harga pangan.

Inflasi mereda namun risiko energi masih ada

"Inflasi Indonesia mereda lebih lanjut pada bulan April menjadi 2,42% tahun-ke-tahun, turun dari 3,48% di bulan Maret, berada di bawah ekspektasi pasar (2,70%) namun tetap nyaman dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5% ±1,0%."

"Secara keseluruhan, inflasi April melambat akibat efek pasca-liburan, dengan volatilitas terkendali meskipun ada ketegangan global dari perang di Timur Tengah."

"Risiko tetap condong ke sisi atas, terutama dari harga energi yang lebih tinggi, karena kenaikan harga minyak Brent dapat meningkatkan biaya logistik dan transportasi secara signifikan, yang secara tidak langsung mempengaruhi inflasi inti dan pangan."

"Pemerintah diperkirakan akan fokus mengendalikan biaya logistik dan harga pangan dengan koordinasi bersama BI melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS)."

"Ke depan, inflasi yang stabil memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada 4,75%, meskipun dengan konsekuensi rupiah yang lebih lemah (lihat Indonesia: Cadangan devisa turun akibat intervensi valas yang berkelanjutan), sebagai dukungan terhadap sikap fiskal ekspansif pemerintah."

(Artikel ini dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan dan ditinjau oleh editor.)

Bagikan: Pasokan berita