Harga Perak Naik ke Tertinggi Tiga Pekan saat Minyak Turun, Dolar AS yang Lebih Lemah Angkat XAG/USD

  • Perak melonjak lebih dari 4% pada hari Kamis dan mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir, di atas $80,60.
  • Penurunan harga Minyak meredakan kekhawatiran inflasi dan mendukung logam mulia melalui imbal hasil AS yang lebih rendah.
  • Dolar AS yang lebih lemah dan sentimen risiko yang membaik memperkuat momentum bullish pada XAG/USD.

Harga Perak (XAG/USD) melanjutkan rally kuatnya pada hari Kamis, diperdagangkan di sekitar $80,60 pada saat berita ini ditulis, naik 4,19% pada hari ini. XAG/USD mencapai level tertinggi tiga minggu, didukung oleh harga Minyak yang lebih rendah, imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang menurun, dan pelemahan luas Dolar AS (USD).

Pasar terus merespons kemajuan terkait kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang meningkatkan selera risiko dan memicu koreksi tajam pada harga Minyak. Pelemahan di pasar energi ini mengurangi ekspektasi inflasi dan mendorong para investor untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Penurunan harga Minyak Mentah juga menekan imbal hasil obligasi Pemerintah AS, yang merupakan faktor pendukung bagi logam mulia yang tidak berimbal hasil. Dalam latar belakang ini, para pedagang kembali meningkatkan prakiraan terhadap potensi pemotongan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun.

Sementara itu, Dolar AS tetap berada di bawah tekanan menyusul penurunannya baru-baru ini, membuat Perak menjadi lebih menarik bagi para investor yang menggunakan mata uang lain. Pelemahan Greenback terjadi saat pasar terus memantau negosiasi geopolitik di Timur Tengah bersamaan dengan rilis data makroekonomi AS yang akan datang.

Data pasar tenaga kerja AS terbaru menunjukkan sinyal beragam. Laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan payrolls swasta naik sebesar 109 ribu di bulan April, di atas ekspektasi pasar. Pada hari Kamis, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal naik menjadi 200 ribu pada pekan yang berakhir 2 Mei, dibandingkan dengan revisi 190 ribu sebelumnya.

Para investor kini menantikan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) hari Jumat untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai jalur kebijakan moneter The Fed.

Pertanyaan Umum Seputar Perak

Perak adalah logam mulia yang banyak diperdagangkan di kalangan investor. Secara historis, perak telah digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Meskipun kurang populer dibandingkan Emas, investor dapat beralih ke Perak untuk mendiversifikasi portofolio investasi mereka, untuk nilai intrinsiknya atau sebagai lindung nilai potensial selama periode inflasi tinggi. Para investor dapat membeli Perak fisik, dalam bentuk koin-koin atau batangan, atau memperdagangkannya melalui sarana seperti Dana yang Diperdagangkan di Bursa, yang melacak harganya di pasar internasional.

Harga Perak dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang dalam dapat membuat harga Perak meningkat karena statusnya sebagai tempat berlindung yang aman, meskipun pada tingkat yang lebih rendah daripada Emas. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Perak cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah. Pergerakannya juga bergantung pada bagaimana Dolar AS (USD) berperilaku karena aset tersebut dihargai dalam dolar (XAG/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Perak tetap stabil, sedangkan Dolar yang lemah cenderung mendorong harga naik. Faktor lain seperti permintaan investasi, pasokan pertambangan – Perak jauh lebih melimpah daripada Emas – dan tingkat daur ulang juga dapat memengaruhi harga.

Perak banyak digunakan dalam industri, khususnya di sektor-sektor seperti elektronik atau energi surya, karena memiliki salah satu konduktivitas listrik tertinggi dari semua logam – lebih dari Tembaga dan Emas. Lonjakan permintaan dapat meningkatkan harga, sementara penurunan cenderung menurunkannya. Dinamika ekonomi AS, Tiongkok, dan India juga dapat berkontribusi pada perubahan harga: bagi AS dan khususnya Tiongkok, sektor industri besar mereka menggunakan Perak dalam berbagai proses; di India, permintaan konsumen terhadap logam mulia ini yang digunakan dalam perhiasan juga memainkan peran penting dalam menentukan harga.

Harga Perak cenderung mengikuti pergerakan Emas. Ketika harga Emas naik, Perak biasanya mengikutinya, karena statusnya sebagai aset-aset safe haven serupa. Rasio Emas/Perak, yang menunjukkan jumlah ons Perak yang dibutuhkan untuk menyamakan nilai satu ons Emas, dapat membantu menentukan valuasi relatif antara kedua logam tersebut. Beberapa investor mungkin menganggap rasio yang tinggi sebagai indikator bahwa Perak dinilai terlalu rendah, atau Emas dinilai terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio yang rendah mungkin menunjukkan bahwa Emas dinilai terlalu rendah relatif terhadap Perak.

Bagikan: Pasokan berita